Ketika

Ketika tanpa sengaja, tanganku menuntun mengunjungi sebuah blog dan terbujuklah hatiku dengan tulisannya yang berjudul: “Ketika”. Jazakillah khoir, Ka Eke. :’)

Ketika semua pintu sudah tertutup, dan kita masih terus berusaha, maka itulah yang disebut kegigihan.

Ketika semua jalan buntu, dan kita masih terus maju, selangkah demi selangkah, maka itulah yang disebut persisten.

Ketika semua cara telah berkali-kali dicoba, terus gagal lagi, gagal lagi, dan kita masih terus mencoba, maka itulah yang disebut ketekunan.

Ketika semua amunisi habis, tidak ada lagi yang bisa membantu, dan kita masih terus berdiri tegak menyelesaikan tugas, maka itulah yang disebut pantang menyerah.

Dan ketika semua orang lain sudah berhenti, dan kita masih terus berusaha, maka itulah yang disebut keyakinan.

Sungguh dekat sekali orang-orang ini dengan keberhasilan. Pun kalau nasib ternyata gagal, dia tetap dekat dengan kebahagiaan. Berbahagia dengan usaha yang telah dilakukan.

*Tere Liye | Alumni Beastudi Indonesia, LPI-DD

Bumi Ja(ya)karta

Jangan Biarkan!

Waktunya kencangkan ikat kepala! Jangan biarkan ia tertunduk, kecuali malu. Jangan biarkan kenyang, kecuali berbuka. Jangan biarkan ia bersandar, kecuali sejenak. Jangan biarkan ia tertidur, kecuali sedikit. Jangan biarkan ia mendengar, kecuali yang baik. Jangan biarkan ia melihat, kecuali yang baik. Jangan biarkan ia berbicara, kecuali yang baik.

Agar senantiasa, hanya kebaikan yang meliputi kebaikan dalam setiap prosesnya. Duhai Dzat Pemilik Kebaikan, anugerahilah kami kebaikan yang tak pernah terputus dan terus menerus menghasilkan kebaikan-kebaikan baru. Aamiin.

Sabana?

Di pelataran kisahku kini, terbentang sabana nan luas. Apa yang kau lihat? Apakah rerimbunan pohon berduri nan jarang ataukah padang rumput nan tinggi? Sejenak ku berpikir. Jika benar begitu, barangkali rerimbunan ide itu belum tertuang sepenuhnya. Ia terperangkap duri ego dan memaksanya tak banyak tumbuh. Atau barangkali, banyak isme-isme yang merangkai kata untuk penjarakan ide! Duhai. Continue reading