Kadang..Ayah!

Kadang, ada makna yang tak sampai melalui rangkaian kata. Justru diam menjadi penghubung komunikasi makna yang eksklusif, antara hati dan hati.

Kadang, terlalu lembut itu amat menjemukan. Dibutuhkan ketegasan untuk memisah batas hitam dan putih yang kadang nampak bercampur.

Kadang, larangan-larangan menyebalkan itu amat menyelamatkan. Sedang pujian justru melemahkan bak anak panah yang melesat.

Kadang, sikap acuh adalah tempaan yang menguatkan. Melatih jiwa-jiwa kuat, lahirkan kemandirian dan patriot yang pantang bermanja.

Kadang, ekspresi cinta tak butuh cukup kata atas pembuktian. Dimana peluh tenaga, pikiran dan pengorbanan, tak punya banyak kata demi yang dicinta.

Kadang, peluk dan belaian kasih dikala lemah tak punya daya magis apa-apa. Ia dikalahkan oleh doa-doa tulus yang menggetarkan ‘arsy memaksa Allah untuk mengabulkan.

Kadang, aku tak percaya bahwa melupakan dunia justru membuatmu dicari dunia. Melalui sikap-sikapmu yang tak biasa itu.

Dan kini, mau tak mau aku mempercayainya. Aku melihatnya pada sosok yang tampak amat biasa. Terbebasnya dirimu dari ragam aksesori dunia, menjadikanmu teramat istimewa.

Kini, sosok itu selalu nampak di hadapanku. Memaksaku menjadikanmu panutan, inchi demi inchi. Sosok itu..Ia ada padamu, Ayah.

Ayah kebanggaan, Ayah nomor satu di dunia!