Bu Wiwi dan Pak Tamim

Beberapa hari lalu, salah satu orang yang saya kagumi wafat di bulan yang mulia. Beliau, Ustadz Mutammimul Ula. Suami dari seorang wanita yang saya kagumi pula, Ustadzah Wirianingsih.

Saya memang tidak pernah berinteraksi langsung dengan Pak Tamim, kecuali dengan beberapa perjumpaan dengan Bu Wiwi. Namun, profil beliau seakan lekat. Tak hanya lewat tulisan, profil menganggumkan beliau tampak pada keluarga yang dibangunnya.

Seakan menjadi cambuk, keluarga mengagumkan ini berawal dari Bapak Tamim dan Ibu Wiwi sebagai orangtua. Akankah saya bisa mewarisi keduanya?

Di masa pemilu, saya sering bertemu Bu Wiwi yang kala itu menjadi caleg di Dapil saya. Kadang, menemani beliau dalam agenda Bidpuan di Jakarta. Seperti agenda silaturahim dengan Ibu Baswedan, Fery Farhati di rumah dinasnya.

Tentu, sebagai jurnalis amatiran ini, saya ikut kebagian mewartakan apa yang terjadi. Sekaligus, sesekali punya kesempatan ngobrol dan mengawasi tindak-tanduk beliau. Membaca gestur beliau. Ya, beliau memang mengagumkan.

Beberapa kali, saat agenda pemilu sedang gencarnya, saya akan bertemu Bu Wiwi di waktu pagi. Lalu, siangnya dan kemudian malamnya. Esok paginya, saya dengar beliau baru mendarat jam 1 pagi dan datang tepat waktu di agenda pagi itu lagi.

Beliau memang sering bercerita, baik langsung atau lewat ceramahnya. Allah memberikan karunia melalui waktu tidur yang singkat: hanya 2 jam sehari. Sehingga beliau bisa melakukan banyak aktivitas bermanfaat lainnya.

Saya pun berseloroh sambil mengantar beliau pulang, “Ibu, meski saya masih muda, rasanya belum mampu mengikuti kesibukan ibu yang luar biasa.” Tubuh ini akan ringkih, batinku. Beliau tersenyum, memberikan petuah singkat, lalu kami berpisah dan ku lambaikan tangan padanya.

Batinku berbisik, suami seperti apa yang menjadi partner istri seperti ini? Keluarganya mengagumkan, kiprah sosialnya pun mengagumkan. Pasti, kiprah ibadahnya pun mengagumkan.

Apa kiranya amal unggulan beliau? Apa kiranya yang menjadi sumber energi beliau yang nampak tak pernah habis ini? Kebahagiaan apa yang membuat wajahnya selalu teduh dan menenangkan?

Saya yakin, suami beliau jauh lebih mengagumkan.


Kamar kecil, ruang berdialog dengan diri. Akankah kau ikuti jejak keduanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s