Monolog

Jika tidak sedang menulis, biasanya saya melakukan monolog dengan diri sendiri. Kok bisa? Entahlah. Biasanya, aktivitas ini dilakukan sehabis shalat. Di atas sajadah, saya tidak beranjak untuk sekedar memutar memori yang telah lalu.

Bisa jadi, terkait peristiwa yang baru-baru terjadi atau pengalaman masa lalu. Biasanya sih pengalaman pahit yang kemudian didialogkan untuk menarik benang hikmahnya.

Sama dengan menulis, dialog ini cukup ampuh untuk memaafkan diri saya sendiri dan terbebas dari rasa bersalah yang berlebihan. Dialog ini juga membuat saya menyadari kekurangan, kelebihan dan perasaan mencurigai amanah apa yang tengah Allah siapkan.

Bisa dibilang monolog adalah aktivitas muhasabah. Lebih asik dilakukan selepas qiyamul lail. Karena di waktu inilah, tidak akan ada sesiapapun mengganggu lingkungan privatku. Apalagi kalau sedang di asrama, hanya di waktu qiyam, aku bisa merasakan me time ini dengan nyaman.

Setelahnya, rasanya ploooong sekali. Seperti sudah curhat seribu cerita dan ada yang mendengarkan. Siapa? Siapa lagi, ya kan?

_____

Qum, ya akhwati! Ramadhan sebentar lagi. Kamar kecil, tempat merenda cita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s