(Menjadi) beda itu.. 

Pagi yang berselimut awan tebal, baru saja dingin dan dibasahi rahmat hujan. Ada sedih memang, bagaimana nasibnya? Pagi-pagi buta sudah pergi membawa semangat baja, lalu sebelum subuh hujan telah hadir. Akankah kita menghujatnya? Tidak, bukan?

Sama sepertimu, haru-bahagia-harap berkelindang dalam hati. Sekhusyuk-khusyuknya, agar Bapak, Allah mudahkan, Allah sehatkan, dan Allah muliakan. Pun begitu dengan keberadaan kita, duhai adik manis. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin..

Kau tahu dimana indahnya hujan, Dik?

Selepas reriuhan air yang tercurah, ada pelangi yang mengendap-endap muncul menggantikan langit buram. Tapi tak sampai disitu, karena hujan adalah awal kehidupan. Anugerah Allah untuk mengubah tanah-tanah tandus kita menjadi ladang hijau yang subur, berbuah dan menaungi.

Tapi sayangnya, ia tak secepat pelangi. Asal ada cahaya yang mengintip, pelangi langsung memberi keceriaan bagi kita.

Oleh karena itu, bersabarlah dan jangan buru-buru.

Kenapa? Karena hujan, dia bekerja diam-diam dalam tanah. Menelusup, melembabkan hingga mampu membusukkan. Kau pasti tahu betul proses ini membutuhkan waktu yang lama.

Dan semoga pun dengan kita, apapun perbedaan kita, tetaplah ingin mempersembahkan hal yang sama. Sebagaimana rahmat hujan, menjadi pelangi atau awal kehidupan adalah sama-sama pilihan kebaikan.

Dalam hitungan dua puluhan Muharram

Dalam hitungan hari menuju mukhayam.

Semoga Allah tetap menyibukkan kita dengan kebaikan. (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s