Syukur lalu bahagia (:

Siang ini, saya sempat menonton lomba Tap MPR yang ditayangkan di TVRI. Loh, kok bisa? Maklum, sedang izin hari ini. Mengisi asupan daya tahan tubuh sebelum beraktivitas kembali. 😉

Kembali soal lomba tersebut, ada tiga sekolah yang tengah memperebutkan tiket menuju babak final. Masing-masing sekolah terdiri dari 10 siswa yang tergabung dalam satu regu. Kali ini, peserta berasal dari Tangerang, Sungai Liat dan Pontianak. Mereka, tentunya cerdas, telah hafal dan memahami empat pilar bangsa ini. Bahkan, dua regu menjawab benar sempurna di satu babak. Saya? Daku mah apa atuh.

Apa yang menarik dari perlombaan ini?
Kebetulan, menonton dua tiga babak akhir, jadi tidak secara keseluruhan. Di babak inilah, aura tidak semangat terpancar dari dua regu: Sungai Liat dan Tangerang. Padahal, saat babak ini, regu Sungai Liat memimpin skor. Apa pasal?

Susana makin tak karuan di babak terakhir, ketika masing-masing anggota regu maju dalam babak soal berebut. Dua regu kehilangan fokusnya, lupa teks hafalannya, ditambah: ekspresi tim yang kecewa dan mendengus kesal. Timbul tanya, “apa mereka sedang di-push harus juara?”

Berbeda, regu Pontianak masih tenang dan menyusul dengan nilai gemilang. Dan di akhir kompetisi, regu inilah yang mendapat kesempatan maju ke babak final. Lagi, dua regu tetap nampak tak bersemamgat.

Lalu?

Awal sekali, timbul tanya dalam diri, “mengapa mereka tak bersyukur sudah sampai sejauh ini?”

Sebelum menduga-duga, hati kembali mengingatkan, “loh, bukannya kamu juga begitu, Us? Yang kemarin itu, lupa?”

“Oh iya, ya,” jawab hati meringis. Ah, lagi-lagi, hikmah yang didapat paling pantas untuk menghakimi diri sendiri. 😂

“Dan sungguh, telah kami berikan hikmah pada Luqman, yaitu ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur pada diri sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur); maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji”

(QS. Luqman: 12)

Lalu hati berujrar, mungkin begitulah syukur itu bekerja. Bermula dari kalimah tawakal kepada Tuhannya, ia menitipkan ketenangan pada pelakunya dan menganugerahkan kebahagiaan pada akhirnya.

Dengan syukur, hati akan tenang dan totalitas dalam bekerja. Lalu anugerah kebaikan berupa kebahagiaan, yaitu kepuasan dengan hasilnya serta kepuasan telah bekerja maksimal.

Tak harus jadi juara, tapi berbuat sebaik yang kita bisa!

Untukmu diri,

“Yuk berbenah dan tingkatkan selalu mujahadah. Bukan seberapa banyak, melainkan seberapa sering. Bukan seberapa kuat, namun seberapa manfaat. Tawakal akan hasil, jadilah seperti Sa’adz ibn Mu’adz!”
#roadtomqan7: membangun peradaban Indonesia bersama Ahlul Quran.

Dalam hitungan tujuh belas,

Muharram yang mulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s