Sesuatu (yang) dirindu

Lama, tak menjenguk laman ini untuk sekedar mencurahkan isi hati. Gaduh, bising dan carut marut keramaian yang mengganggu. Hatta, diri ini merindukan sepi dan sendiri untuk sekedar menafakuri. Kemanakah langkah ini akan terayuh?

Tempat-tempat baru, lingkaran sahabat baru, bahkan amal-amal baru tak jua menambah ‘sesuatu’ di sana-di ujung kedalaman biru. Bergerak itu pasti, bertumbuh adalah niscaya dan berkembang pun sunnatullah ketetapan bagi mereka yang bernyawa. Tapi rasanya, ada sesuatu yang hilang-yang sejak dulu dipertahankan dengan egoisnya. Dia-itu-sesuatu itu-awalnya menjadi kesadaran bahwa sesuatu yang baru akan hadir beriringan dengan hilangnya sesuatu yang lama. Namun, rasanya bias sekali.

Lamat-lamat, nampaknya tidak begitu, sesuatu itu tetap menjadi semu yang dirindu. Sedikit demi sedikit, ia terketuk untuk membuka lembaran lalu dan berharap terpaut. Tapi waktu, masih mengajarkan tentang sabar dan ketetapan hingga waktu pun kembali berlalu.

Apakah perubahan itu niscaya? Kata orang begitu. Ku tatap langit-langit doa dan harap, benarkah demikian wahai ‘Izzati Rabbi? Tiba-tiba, selaksa mata air ahlush shuffah bergema di ujung sana.

“…dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai selain dengan apa yang Aku wajibkan, dan bila hamba-Ku terus mendekatkan diri kepadaku dengan amalan sunnah maka Aku akan mencintainya, dan bila Aku telah mencintainya maka Aku akan menjadi telinganya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk menggenggam, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Bila ia meminta kepadaku akan kuberikan dan bila ia memohon perlindungan akan Aku lindungi dan tidak pernah Aku ragu-ragu seperti mencabut nyawa orang mukmin yang takut mati, maka karena aku tidak suka menyakitinya”. (Hadits qudsi, HR. Bukhari)

Kenangan demi kenangan si ranting muda terhampar di hadapan. Hatta gemrincing luka menganga, dia tergerak-mengadu-sendu-bahkan-tersedu-sedu padanya. Malam demi malam yang diagungkan, syahdu sekali. Siang demi siang bersinar, bersemangat sekali.

Ku pandang kembali langit doa dan harapan. Duhai Rabbi, izinkanlah sekali lagi dan sampai mati.

 

Menghitung kesadaran,

Syawal hitungan dua puluh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s