Jalan dan perjalanan

Akhirnya, kami bertemu juga setelah beberapa kali rencana pertemuan gagal. Baik di Rangkasbitung atau pertemuan di Jakarta. Rupanya Mabes menjadi wadah pertemuan kita kapan pun jua. Dalam aktivitas-aktivitas sosial, termasuk persoalan pribadi yang seringkali jadi campur aduk pembicaraan kami.

Termasuk hari ini. Mabes mempertemukan kami karena soal pribadi, lalu melebar dengan obrolan organisasi. Selalu saja begitu.

Di akhir perjumpaan kami, setelah kenyang ngerujak dan dapat traktiran suhu Humas, aku dan dia masih terlibat perbincangan yang belum kunjung selesai. Ah, iya, nanti kita sambung setelah pertapaan kita sejenak ya, Mba. Kemudian ia sibuk dengan gadgetnya, memesan layanan armada G*jek untuk mengantarnya hingga Ciputat. Aku menunggunya sejenak. Tak lama, armadanya pun datang.

Aku sudah siap tersenyum dan melambaikan tangan. Rupanya ia terlibat diskusi sejenak dengan pengemudi G*jek yang kebetulan lewat.

“Mba Us, naik G*jek aja. Murah kok sampai Kalideres. Cuma sekian….”

Aku hanya tersenyum, menggeleng.

“Dari pada naik angkot..”

“Aku naik kereta”, tersenyum kembali. “Ingin menikmati jalan kembali, Mba.”

Ia mengerti, kami pun berpamitan. “Hati-hati ya, Mba”, ujarku sebelum meninggalkannya.

Langkahku memasuki sebuah gang, beberapa kali berkelok, berjalan sesuka hati, mengikuti feelingnya. Rasanya, akhir-akhir ini, jalan menjadi hal yang mengasyikan. Jarak tempuh Mabes di bilangan Condet sampai stasiun Pasar Minggu sekitar 1-2 km terasa sangat dekat. Bahkan mungkin kurang.

Ah, iya, seperti siang tadi. Memilih berjalan hanya untuk muhasabah. Iya, barangkali itu. Jalan menjadi aktivitas muhasabah yang mengasyikan. Terngiang, kemana saja kaki ini pernah melangkah sebelum ditanya di akhirnya? Kemana pula ia akan menghentikan langkah tujuannya? Sebab bagaimana pun awal dan proses kita, semua tergantung akhirnya, bukan? Hingga tak ada alasan untuk tidak mawas diri. Ah, iman, tak ada yang menjami sesiapapun dapat wafat dalam keadaan beriman.

Jalan pun menjadi sarana yang tepat untuk mengingat. Terutama bagi orang dengan kemampuan spasial yang rendah sepertiku. Dengan berjalan, aku benar-benar mengenal tempat yang ku singgahi beserta orang-orang dan pepohonan yang mendiaminya.

Ya, nampaknya jalan sudah menjadi aktivitas penuh filosofi bagiku. Mengingat, menghitung, meraba pikiran hingga memaknai kehidupan. Jalan mengajarkan ku sebuah hikmah baru: ‘beginilah seharusnya memuhasabah. Engkau menghisab diri namun terus berjalan tanpa sempat terhenti.’

Karena sesungguhnya, hidup ini pun perjalanan dari satu masa ke masa yang lain. Dari dunia menuju surga Allah yang abadi. Berjalanlah, agar kelak Allah berlari kepadamu. Berjalanlah, agar engkau siap berlari kepada-Nya.

Sore beranjak malam, dalam armada besi panjang yang mengantarkanku pulang

Pasar Minggu
Dzulqaidah, hari ke empat

Bumi Ja(ya)karta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s