dan lagi, rumput

Ia yang disana bilang:
rumput-rumput itu tak pernah pergi
pohon-pohon menjulang itu tak pernah beranjak
mengajar arti ketahanan
terpaan bosan yg terus menerpa diri

Katanya,
rumput-rumput itu senantiasa bergoyang
bak sang shalih menghamba diri
menyerah pasrah,
pada kekuatan malam.

tapi,
ia yg disini justru berbisik:
‘Aku belajar dari rumput’
‘mengapa?’, tanyaku padanya
ia mengerjap mata,
menghela nafas, memandang sepanjang rumput terhampar.

‘bukankah Dia telah menciptanya dgn indah?
hijau menyegarkan,
namun tetap merendah.’

tapi apa daya,
ia hanyalah rumput.
sebab dia hanya rumput,
menutup mata tiap insan atas keindahaan maksud penciptaan-Nya.

bahwa,
begitulah rumput mengajar,
yg terus menyeruak di antara tetanah kering,
yg terus tumbuh meski dicerabut paksa tangan bergerigi,
dan terus bertahan,
meski harus terinjak,
lagi dan lagi.’

kini, ia menoleh padaku dan berkata:
‘bukankah begitu, kerasnya azzam para penjaga kalam Ilahi?
selalu hidup, tanpa pernah padam.
seperti rumput,
ia ‘kan terus tumbuh,
lagi dan lagi.’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s