Rindu

Ada yang mengalun, kembali menelusup, jauh dan dalam sekali. Ternyata masih ada dan masih sama. Berkelebatan haru. Dia masih disana, bertengger di samudera sanubari yang ku kira telah mengering. Bercampur padu di peraduan biru. Di ufuknya, garis batas biru yang berbeda resonansi itu membuatku takjub. Panjangya, ingatkan aku waktu itu. Ah, sudah lama rupanya ia berlalu.

Kaki ku menjejak bebuliran pasir lembut, melangkah pada secercah samudera. Dulu, aku sering bercermin padanya. Aku bercerita banyak kepadanya. Pada balutan luka-luka mengoyak, jerit hati tanpa suara.

Kini, aku persis di hadapannya. Semilir angin, membuat wajahku bergerak bergelombang di tepiannya. Aku tersenyum, mengingat pedih yang hampir ku lupa. Benarkah aku pernah merasainya? Tak terasa, bulir-bulir lembut jatuh perlahan. Bak rerintik hujan yang baru turun dari awan. Tiap tetesnya membentuk gelombang-gelombang kecil padanya.

Masih tersimpan di sana, tanpa pernah terjamah. Ku tangkupkan tangan, menadah bulir-bulir kesegarannya. Mengecap kemurniannya.. kemurnian ‘azzam gadis belia yang jernih keyakinannya. Gadis yang bertumbuh sesukanya, asal mampu bertemu Cahaya. Bergerak lincah meski pahit dan getir berkali-kali menjadi kawannya. Dalam mujahadahnya, meski lidah masih kaku terbata..

Aku rindu waktu itu, dalam dekapan penuh haru. Seakan langit hendak runtuh menimpanya, gadis itu sesegukan bertanya:

“maukah engkau menjadi sahabat keduaku wahai Cahaya?

Dalam proses membenahi diri,
kemurnian adalah kenikmatan.
Kalideres,
Syawal hari ke sembilan belas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s