Wanita dan tilawah

Alhamdulillah, kemarin dipertemukan juga dengan seorang kawan, una-san. Stasiun kereta menjadi meeting point perjumpaan kami, apalagi setelah kereta menjadi wahana kesukaanku sejak beberapa tahun terakhir. Untuk memudahkan lagi menghargai kesukaan kawannya, dipilihlah olehnya tempat itu.

Di dalam gerbong, kami saling bercerita meski mungkin tak seantusias sebelum-sebelumnya. Entahlah, mungkin karena kami telah mendewasa seiring berjalannya waktu. Ada banyak hal terjadi selama beberapa bulan ini, dia yang menggenap dan aku yang memilih cita. Beberapa bulan yang dipisahkan oleh Ramadhan, seakan menjadi akselerasi jiwa bagi kami.

Seperti biasa, selalu ada bahasan menarik bagi kami. Sesuatu yang biasa, sederhana namun menggugah. Kali ini, temanya soal wanita. Dimana khalayak umumnya pun tahu, bahwa wanita memiliki kosakata sekian ribu bahkan puluh ribu untuk dikeluarkan melalui lisannya. Berbeda dengan laki-laki yang hanya kisaran ratusan. Sehingga wajar, wanita, ibu, apapun jabatan kehidupannya, ia lebih ceriwis tenimbang pasangannya.

Ironisnya, jika wanita tak memiliki tempat untuk menuangkan keluh kesahnya atau sekedar menghabiskan stok perbendaharaan kata yang dimilikinya, ia terancam stres atau mengidap penyakit kejiwaan lainnya. Hal ini pun berdampak pada anak-anaknya jika ia seorang ibu, berdampak pada aktivitas belajarnya jika ia seorang anak dan pada kinerja kerjanya, jika ia seorang pekerja.

Iya, ya. Lalu, apakah kami harus terus berbicara? Padahal, bukankah lisan adalah penentu surga dan neraka bagi kami? Pun Rasulullah memberikan batasan kepada umatnya, “..berbicaralah yang baik atau diam” ( hadits muttafaqun ‘alaih).

Ia tiba-tiba berkata, “..mungkin karena itu, Umi sering bertilawah dengan jahr..”

Ah, iya. Tilawah! Semakin banyak kami (kaum wanita) bertilawah secara jahr, apalagi dalam hitungan lebih dari 5 juz, otomatis sekian puluh ribu kata telah terejawantahkan dalam bentuk kalamullah. Sehingga ia tak lagi punya peluang berbicara buruk lagi mubah, apalagi sia-sia. Masyaa Allaah..

Tilawah, sima’an, muraja’ah dan segenap aktivitas kita menyibukan diri dengan Al-Quran, rupanya memberikan beragam hikmah yang luar biasa. Jika shalat mencegah sesiapun kita dari perbuatan keji lagi mungkar, maka tilawah mencegah sesiapun kita dari lisan yang tak berfaedah.

Barangkali ini pun yang menjadi jawaban pertanyaanku sendiri tentang bagaimana seorang ibu bisa mendidik anaknya shalih luar biasa. Iya, barangkali lisannya memang telah Allah jaga sebaik-sebaiknya sebab penjagaannya melalui banyak tilawah. Tak lagi sempat banyak mengumpat apalagi berghibah. Pantaslah, generasi yang dilahirkannya menjadi anak yang tak biasa.

Barangkali, demikian pula ibu-ibu di zaman Rasulullah, shahabiyah dan para tabi’in sehingga melahirkan generasi yang luar biasa. Masyaa Allaah..

Teringat firman-Nya:

..أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا • إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا.. (المزمّل : ٣-٤)

Shadaqallahu wa shadaq rasuluh. Maha benar Allah dan segala keajaiban hikmah penciptaannya. Semoga Allah menyibukan kita dengan Al-Quran hingga kita tak sempat menjamah lisan kesia-siaan. Melainkan, qaulan tsaqiilan.. Wallahu a’lam.

Jakarta, Syawal hari ke delapan belas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s