Huah!

Tak lagi menarik, yah, apapun itu. Seakan semuanya bergumul menjadi columunimbus, mengangkasa di awan selaput kepala. Terdengar gemerisik, awan-awan itu berjalan dan gunung-gunung pun berjalan dan diperjalankan layaknya Dia menggerakan awan. Ya, ya, hanya saja kau tak melihatnya. Yang kau tahu, ialah benar bahkan instrumen sains membuktikan kebenarannya.

Inginnya berlari secepat mungkin, sejauh yang mampu ditempuh, lalu melompat menggapai reranting sambil teriakan gemuruh. Hah! Allahu akbar walillahil hamd! Atau menyelam sejauh mungkin hingga bertemu makhluk-makhluk bercahaya atau mungkin sesuatu yang berpijar?

Hah! Apalagi, bagaimana lagi? Semua terasa abstrak nan absurd dalam gambaranmu. Itulah salahmu! Kesalahan fatal. Fantasyiiruu fil ‘ardhi wabtaghu min fadhlillaah.. Tidak, lihatlah lembaran neurit-neurit ini. Aku telah merencanakannya, meski, aku sebenarnya buta arah. Lembaran fantastis yang tak ku mengerti ujung dan awalnya. Yang ku tahu, hanya muaranya.

Hei, hei. Kemana, yang mana? Entahlah. Yang ku tahu, Dia hanya bilang: in huwa illa dzikrul lil ‘aalamiin, limansyaa-a minkum anyastaqiim, wamaa tasyaa-uuna illaa anyasyaa-ullahu rabbul ‘aalamiin..

Kau dengar itu? Hei, iya, kamu. Dengarlah bunyi senyap yang baru saja bergetar. Dengarlah dengan rasa hati yang membeku acuh. Hei, dengarlah lalu rasakanlah. Iya, iya, iya! Kau hanya perlu kembali. Tak usah risau. Sebab hanya kepada-Nya lah sesiapun ‘kan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s