Realistis!

Persoalannya cuma satu: kamu sudah meneguhkan, ‘aku ini berpaham realis’, seperti katamu tadi. Itulah mengapa, ceramah penggugah hati tak mempan untukmu. Kamu butuh sesuatu yang lain, yang memuaskan kebutuhan intelektualitasmu.


Itulah sekelumit jawabanku padanya, adik sekaligus kawan baru yang memiliki kesamaan pandang denganku soal lainnya: ‘egaliter’ dan ‘kritis’ yang sering menjengkelkan banyak orang.

Aku memberi kode, waktunya kita bangkit dari metromini orens-biru yang sebelum terlena obrolan ‘tak ringan’ kami. Malam ini kami turun di perempatan lampu merah untuk menyambung jenis angkutan lainnya.

Jalanan ramai sekali, kendaraan saling berselisih kecepatan untuk saling mendahului. Termasuk kawan baruku ini. Ia hendak menyebrang di tengah carut-marut jalanan malam ini.

Realis pun harus paham aturan. Lihatlah itu, masih hijau di angka empat puluhan.

Alhasil, ia menurut dan mengikuti langkahku saat lampu berganti Merah. Kami menghentikan sebuah angkutan Merah dan melanjutkan obrolan ‘tak biasa’ kami. Ada beberapa hal yang ku simpulkan dari pernyataan-pernyataannya.

Aku sudah tiga kali berganti murabbi. Mereka tak tahan dengan pertanyaan-pertanyaanku yang dianggap gila. Sampai salah seorangnya bilang, ‘kalau begini, kamu tidak akan punya murabbi!’

Lihatlah, aku masih begini. Meski mereka mengomeliku agar aku berjilbab syar’i dan mengganti celana jadi rok apalagi kaos kaki. Aku masih belum bisa. Aku belum menemukan alasan mengapa harus begitu?

Dalam sebuah diskusi di kampus, kawanku ada yang berdalih alasannya mendukung Palestina karena dasar perjanjian Genewa. Bagi mereka, Israel salah, karena melanggar perjanjian. Bagiku, Hamas yang salah. Dengan dasar perjanjian Genewa, Hamas sudah melanggar perjanjian karena menembak rudal ke rakyat sipil. Jika rudal kemudian berbalik ke Palestina dan menghantam bangunan sipil, itu salah mereka.

Aku tak bisa menerima pernyataan bahwa ini sudah termaktub dalam hadits dan Quran.

aku ngga bisa menerima mereka selalu meneriakan anti syiah, anti liberal, anti ini dan itu. Aku justru bilang ke murabbiku dulu, ‘aku justru tertarik dengan mereka.’ Dia gemas. Sebab aku punya teman dan dia syiah. Sedang dia tak seperti dituduhkan oleh mereka semua itu.

Aku, …

Masih begitu banyak pernyataan-pernyataan keluar dari lisannya untuk menunjukan, dialah seorang kritis lagi realistis. Sesekali aku berkomentar sekaligus meneguhkan pendiriannya.

Yang terpenting, kamu memilih keputusan dengan pemahaman penuh dan kesadaran akal. Kau tahu baik buruknya, serta konsekuensi atasnya.

Itulah mengapa, hidayah itu dicari. Asal kamu tidaklah berhenti untuk terus mengupayakan.

Sebab beda porsi anak kecil dan dewasa. Tak mungkin si kecil menghabiskan porsi dewasa, dan tak mungkin tercukupi pula kebutuhan si dewasa dengan porsi si kecil.

Ayat dan hadits ada, justru sebagai kebenaran Wahyu. Ia ada sebelum kita mengetahui sebab dan akibatnya. Tugas kita adalah mencari tahu kebenarannya.

Dan hidayah tak butuh waktu satu dua bulan. Ia butuh waktu bertahun-tahun bahkan seumur hidup untuk mempertahankannya.

Angkutan merah kami sampai di muka stasiun, tandanya kami berpisah sementara waktu.

Usianya, cukup terpaut tiga empat tahun di bawahku, persis usia adik pertamaku. Namun kekritisannya mencari kebenaran sangatlah membuatku bangga dengannya.

Sampai jumpa adik manis, sampai bersua di obrolan kita di pertemuan pekan depan dan seterusnya. Semoga, kita mampu berkawan lagi bersaudara di atas jalan kebenaran.

Ruang jumpa,
Mabes yang makin sering dikunjungi.
Menjadi cheerleader,
Pembuat onar para tetinggi. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s