Kurang dari sepuluh, percayalah!

Aku kira, hanya soal memendekan angka
seratus sekian puluh sekian menjadi empat, tiga bahkan satu.
Aku kira, hanya soal pergerakan bulan
tiga atau empat kali, kembali ke posisi semula.
Percayalah.

Bahkan surya pun, belum beranjak terlalu jauh,
sebelum setengahnya.
Hanya di hitungan satu,
dari sepertiganya.
Bahwa,
jikalau tiada gangguan sonar dan surya bermagnetik
kita ‘kan berjumpa di hitungan dua.
Masa usai tanam, serta padi-padi yang meninggi
seranai kuning yang usai bertemu ani-ani.

Aku ‘kan kesana, mengulang sajak-sajak penuh kagum
pada ramai orang yang menyepi,
khalayak bising yang menentramkan,
bak pasukan lebah mengepung madu.
Kau tahu, lama aku menahan rindu
segenap tangis membersamainya.
Hari yang menggelap dan berganti terang,
bahkan kala gelap kembali bersua,
aku, tak mampu berdiri di kakinya.

Ada segenap rasa yang membebani,
pada ranting-ranting muda yang tengah belajar meninggi.
Bertumbuh sesukanya,
menggeliat mencari cahaya.
Aku kira, hanya soal berlatih hitung
tanpa berharap banyak angka.
Seperti dulu,
aku menghitung satu dua tiga hingga sampai angka seribu.
Tapi rupanya,
hanya soal hitungan satu sampai sepuluh.

Teringatku waktu itu,
Bu guru nan baik mengajariku menghitung jarinya.
Ku dongakan kepala,
lalu berteriak: sepuluh!
Lalu kini, aku terbiasa melihat angka serupa berulang
hingga lima enam dan delapan kalinya.
Pada secarik berbaris-baris,
melintang dan membujur.

Untuk itulah, ku sampaikan padamu
mari kembali menjadi anak kecil.
Tak bosan mengulang angka satu hingga sepuluh,
sampai puluhan kali,
dan tak terhenti.
Ingin aku kembali pada masa itu,
berebut bola, batu juga tali,
berbagi cerita dan jajanan manis lagi gurih.
Bahwa aku tak ‘kan pernah takut sendiri,
aku selalu punya tempat mendengar lagi bercerita.
Berebut marah lalu berbaik hati,
asal jari-jari manis kami bertemu kawannya.

Ah, aku hanya ingin kembali muda
mendongak kembali, mengangkat jari-jarinya.
Berhitung satu dua tiga empat hingga sepuluh,
berulang kali tak peduli penat saking serunya.
Yang ku ingat,
wajah-wajah lelah mendekap buku kesayanganya.
Wajahnya penat namun riang penuh semangat.

Seperti waktu itu,
di sebuah tempat pada hitungan tiga dua berhitung mundur.
Surya yang tak pernah rasa terik,
klimatologi yang tak berkutik,
sebab rumah kami selalu nyaman dihuni.
Arasy yang bergetar,
sebab limpah ruahnya cita-cita kami.
Menjadi penjaga,
untuk selamanya.

Segenap biru,
mendalam, jauh sekali.
Kelak, adalah niscaya.

Kalideres,
hitungan ke tujuh belas
Rajab nan mulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s