Sebuah Fragmen

Ah, entahlah. Kuncup di sana bilang, “sabarlah, sebentar lagi. Tak lama lagi. Engkau akan menjejakan kaki di sebuah bilik, disanalah kau sebenar berjuang.” Ia mencoba merayu aku yang mulai merajuk. Tapi.., “ah, terlalu banyak tapi!” Seketika, salah seorang di sana gemas melihat keraguanku. Ia bilang, “bahkan, setelah melangkah sejauh ini?”

Aku tertegun. Aku belum berbuat apapun, bahkan sampai sejauh ini, targetku luar biasa tak tercapai. Memandangi bumi tempat kakiku bersinggah, berpindah pandang ke langit biru. Kakiku tak mau diam, ia iseng menendangi kerikil yang diam tak berdosa itu.

“Bahkan aku tak tahu, akankah aku mampu.. Akankah kelak..”, kerongkonganku seketika penuh kerikil-kerikil tadi. Entah bagaimana caranya, ia melompat dan meluncur menghentikan lidahku.

Dua orang itu memandangiku serius. Lirik matanya sangat tajam. Jujur, aku sebal dipandangi seperti ini. Kau kira aku tawanan? Hah! Aku tambah sebal, mereka terus menatapku selidik. Menunggu lanjutan kalimat yang terputus. Nampaknya, aku akan diberondong kata-kata yang aku sebalkan sejak dulu.

Wajahku menunduk, pandangi kaki yang tak mau diam sejak tadi. “Rasanya, sulit sekali. Tak ada target yang tercapai, dan aku merasa tak mampu. Semua kesulitan justru hadir ketika ku ejawantahkan niat itu. Padahal, aku belum melakukan apa-apa, tapi rasanya..sedemikian menganga, Allah tampakan semua keburukanku. Bahkan, aku selalu merasa dihukum…”

Mata-mata itu tampak menyimak khitmad suara-suara sengau yang keluar dari lisanku. Masih diam, menanti kelanjutan keluh yang tak pernah habis masanya. Ah, Rabb, aku hanya bisa mengeluh!

“Iya, aku memang lulus, bahkan aku tak tahu mengapa diluluskan. Iya, aku tak mampu sendiri, itulah mengapa aku harus menggabungkan diri. Iya, mungkin ini waktunya, yang aku pun tak tahu, apakah masanya akan berakhir segera?

Tapi, aku merasa tak pantas. Tak jua hatiku luluh dengan bacaannya. Ia masih saja keras dengan segenap maksiat yang dilakoninya. Aku tak tahu, apakah aku pantas menjadi salah satunya?

Baik baik, aku tak begitu mengerti tentang prioritas itu, keadaan dan realitanya kini. Tapi.. Aku selalu takut, jikalau nanti tiap huruf itu menuntutku.. Rasanya, aku tak pernah sanggup.. Sedang diriku selalu berubah ketaatannya..”

Ingatanku terpikat pada satu fragmen itu, sebongkah batu yang meluncur jatuh karena takutnya kepada Allah. Ah, Rabb. Bolehkah aku merasai perasaan batu itu? Atau bolehkah aku merasai demam tiada henti sebagai penggugurnya?

Dan semuanya diam. Hening.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s