Cahaya…

Pandangku menerawang, ia menatap kilau langit mendung yang kehilangan birunya. Mungkin ia telah berpindah dalam diriku, dalam sekali. Mungkin pula sejak dulu. Sejak saat itu.

Gadis itu merajuk. Ia telah membangun sebuah kerajaan mimpi besar. Desain yang apik nan menyilaukan mata, seperti langit kini. Meski matahari terhalang pandang, cahayanya tak pernah kehilangan akal memendar ke segala arah. Persis seperti gadis itu. Tapi, apatah mau dikata, jika tiang-tiang bangunan mimpinya hilang, raib entah kemana. Tinggalah ia puing-puing yang merana. Sebab ia bukanlah matahari yang serba bisa.

Ia hanya tunas baru yang masih berlatih berlepas kotiledon. Berlatih gigih, menguatkan seluruh sendi-sendi tubuhnya. Berlatih terinjak, belajar dari filosofi rumput. Berlatih mengangkat dirinya yang tertatih untuk berdiri. Lalu pada hitungan waktu tertentu, ia hanya mengikuti sebuah jalan dimana kan ku temukan Cahaya di sana. Akan ku temukan matahari yang ku rindu selama ini.

Ya, ku temukan Cahaya itu! Cahaya, aku merindukanmu. Cahaya, aku kan menggapaimu!

Tapi rupanya, bagaikan punuk merindukan bulan. Aku terlalu tak semampai meraihnya. Kau, terlampau jauh dengan keterbatasan-keterbatasan ini. Barangkali hanya keajaiban yang dapat mempertemukanku padamu.

Lalu, hitungan waktu pun berlanjut. Gadis itu mencatatkan kisahnya. Cahaya, aku bahagia menemukan pancaranmu meski terhalang oleh pepohon tinggi dan dedaunan yang sungguh lebar. Cahaya, aku selalu menanti kedatanganmu dan menjaga kisah hangatmu selamanya. Cahaya, aku akan.. aku ingin.. Cahaya, aku hanya ingin terus merasakan hangatnya pancaranmu.

Lalu, suatu ketika, ketika aku telah sedikit lebih tinggi dan mampu menguping celoteh pepohon yang sedang bertumbuh meninggi. Calon pepohonan tinggi selanjutnya. Cahaya, aku selalu memperhatikan mereka, menguping cerita-cerita mereka, merekam kisah seru mereka, menyimak perjuangan mereka dan menyimpannya erat-erat. Aku harus banyak belajar dari mereka.

Tapi Cahaya, ada haru yang tiba-tiba datang, tiap kali perhatianku mengarah kepada mereka. Cahaya, betapa beruntungnya mereka. Terselip rasa iri, terselip rasa sedih, sebab aku tak menemukan keberuntungan itu, Cahaya.

Tapi tenang, Cahaya. Meski haru itu selalu menyelimuti, aku bahagia dengan kabar-kabar menakjubkan dari mereka. Bukankah Rasulullah pun berpesan demikian? Dibolehkan bagiku iri kepada mereka dan kemanfaatannya? Ya, meski, aku hanya bisa ikut berbangga dan belum berbuat apa-apa.

Aku turut senang, Cahaya. Sebab memang cukuplah satu Matahari di tiap tata surya, atau kita semua kan terbakar. Cukuplah satu bulan untuk bumi, atau kita kan bingung membuat perhitungan. Aku sadar diri, wahai Cahaya.

Tapi Cahaya, satu hal yang akan terus ku jaga. Bahwa mimpi-mimpi itu bukanlah sekelebat bunga tidur yang menguap ketika tersadar. Bukan pula sekedar khayal pemuas keinginan tak sampai.

Cahaya, ialah tulus, perwujudan niat yang telah menghujam. Yang selalu diberi pupuk dan pengairan yang cukup. Ia akan terus dinanti meski tak jua tumbuh kini. Karena aku yakin, Cahaya. Jikalau bukan kini atau nanti, hingga penghabisan usiaku terhenti, barangkali ia akan tumbuh di kemudian hari oleh beberapa generasi yang tak lagi ku kenali.

Cahaya, selama hangatmu masih bisa ku rasakan, selama itu pula ia akan terjaga dan hidup sampai kapanpun. Ia akan terus hidup dan tanpa pernah mati, dan meski sang tuan telah bertemu gelap dalam kesendirian.

Cahaya, aku selalu merindukanmu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s