Rasanya, Aku tak Mampu..

Di perjalanan hari ini, ular besi membawaku pergi bersama hayatan surah yang menenangkan. Setelah sekian lama hijrah, melangkah keluar dari rumah istimewa bernafas Al-Quran, nampaknya pelafalan huruf-huruf ajaib ini bertambah kacau di lidahku. Tak seirama betul, tak konsisten memanjang dan memendek. Seringkali berburu dengan waktu, hingga hak-haknya tak lagi ditunaikan. Istighfar, lagi-lagi sebagai peluruhnya.

Ku pandangi mushaf per 5 juz itu, “..memang benar, aku telah melalaikan kebiasaan baik yang dulu selalu dilakukan. Wajarlah, kepayahan membersamaiku dalam upaya membersamaimu..,” gumamku. Seharusnya, mushaf ini sampai di lembar terakhirnya di penghabisan hari. Atau selisih dua puluh lembarnya. Kebiasaan baik yang tak lagi dijaga, konsistensinya. Rasanya, cambuk diri itu terasa menyakitkan. Kau harus mengulangi dan meneguhkan kembali, wahai diri!

Hingga sampailah aku pada surah itu, Hud namanya. Dan tibalah aku pada ayat itu, menyayat habis seluruh hatiku. Pada dialog ayah dan anak yang amat mengharukan.

Ketika layar telah dikibarkan, semua orang telah menaiki bahtera bersama ternak dan hasil panennya. Komando sudah diserukan, kemudi siap diarahkan dan bahtera siap dijalankan. Alangkah payahnya hati, melihat hujan tiba-tiba turun demikian lebat tanpa henti, air bah yang tiba-tiba meninggi dan tak terbendung, perlahan..menenggalamkan inchi demi inchi.

Kekalutan hadir, bagaimana jika, bagaimana jika? Tak perlu menunggu waktu bergulir sekian lama, air tiba-tiba menenggelamkan semua atap-atap rumah pertanda bahtera mulai bergerak menjelajah.  Betapa payah hati, melihat tangan-tangan itu menggeliat, menjulur setinggi-tinggi, meraih apa saja untuk selamatkan diri.

Ternak-ternak mereka kembang kempis melawan arus hingga akhirnya menyerah pasrah menjadi bangkai yang kekembungan air. Perlahan, pohon-pohon tinggi mulai beranjak tenggelam.  Di ujung sana, tampak sebuah muka tak asing. Megap-megap kepayahan meraih semua yang ada, sampailah ia di puncaknya dan punya waktu untuk berteduh.

Seketika, komandan bahtera berteriak memanggilnya, “Duhai anakku..kemarilah, masuklah bersama bahtera.”

“Tidak, wahai ayah. Akan ku capai gunung tinggi itu untuk menyelamatkan diri..”

“Tidak akan ada yang selamat, kecuali kami yang di bahtera, wahai anakku..”

Seketika, semua berubah. Air bah memisahkan mereka, begitu hausnya ia melahap semua nyawa. Anak itu gagal mencapai gunung, ia gagal menyelamatkan diri. Betapa payahnya keadaan kini. Komandan itu menangis tiada henti, menggerutu pada Rabb-nya..

“Duhai, Rabbi.. ia anakku, ia keluargaku.. Masukanlah ia sebagai golongan yang selamat..”

Rabb menjawab melalui titah-Nya, “Bukan, Nuh. Ia bukan keluargamu, sebab amalnya.. Jangan kau memohon doa yang kau tak tahu tentangnya.” 

“Ampuni aku, wahai Rabbi.. Ampunkan atas ketidaktahuanku..”, keluhnya dengan wajah peluh berkeringat air mata tiada henti.

“Ampuni aku, wahai Rabbi..”

Bahtera itu semakin menjauh, jaraknya dengan anak itu tak lagi berkira. Bagaimanakah nasibnya? Bagaimana rupanya? Dimanakah jasadnya?  Tinta telah mengering. Bah telah surut. Bahtera telah diparkirkan dan memulangkan para awak ke tanah yang baru. Membangun peradaban baru. Berbekal iman, taqwa, ternak dan hasil panen yang dibawanya. Kecuali dia, yang masih sesegukan mengingat wajah yang megap-megap itu.

Bagaimanakah nasibnya? Bagaimana rupanya? Dimanakah jasadnya? 

Duhai Rabbi.. Rasanya, aku tak akan pernah mampu menjadi dirinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s