Ah, Otak. Eh, Otak-Otak

Segala tentang pertanyaan muncul dari kepala ini. Ukurannya tak pernah melebih seperempat tubuh, bahkan tangan di dekatnya pun jauh lebih panjang. Akan tetapi, segala hal tentang diri ini-dan seluruh anggota tubuhnya-tergantung apa yang ada di dalamnya. Pasokan oksigen dan darah pun diserap demikian banyak olehnya. Dialah otak dengan milyaran sel, penentu kualitas manusia. Apakah ia termasuk pengguna otak yang serius atau abai dengan keajaibannya? Ia disinonimkan dengan akal. Maka tak jarang, jika manusia abai dianggap sebagai manusia tak berakal. Bukan tak punya otak, tapi manusia tak berakal adalah mereka yang abai bahwa mereka punya otak!Otak adalah piranti istimewa yang diamanahkan Allah pada manusia. Meski kata ‘otak’ pun dibenamkan pada kepala-kepala hewan, makhluk ciptaan-Nya yang lain. Nampaknya otak manusia secara ukuran dan kualitas jauh berbeda. Orang bilang, otak hewan hanya bertugas memberikan instinc, apa-apa saja yang harus diperbuatnya secara alamiah. Ia makan saat lapar, naik-turun, loncat, menyerang, bertahan dan berkembang. Sedang otak manusia jauh lebih canggih, dengan kemampuan instinc yang sama, manusia akan melakukan inovasi dan improvisasi. Ia pun akan makan ketika lapar. Akan tetapi, otaknya mengajaknya berpikir: mencari makanan berubah menjadi membuat makanan. Kemampuan ini terus berkembang hingga piranti lunaknya melakukan inovasi dengan teknologi yang beragam. Maka tak heran, kata makanan yang akrab dengan tanaman-hewan yang ada di alam berubah maknanya menjadi apa yang terhidang di atas piring.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sederhana saja, manusia punya otak. Loh? ^-*

Maksud saya, karena manusia itu punya ‘rasa ingin’ alias kemauan. Ia bermula dari otak lantas bekerja untuk mewujudkannya. Hoam..kok jadi ngelindur begini, ya?

Kita kembali ke bahasan tadi. Selain instinc, masih menurut orang pula, otak manusia memiliki kemampuan menganalisa yang kita sebut: berpikir. Hal ini adalah jawaban pertanyaan tadi, dimana otak akan menganalisa tantangan yang ada. Ya, dia akan bekerja ketika ada tantangan-tantangan yang dihadapinya. Karena terbatas atau sulitnya memburu binatang yang larinya jauh lebih cepat dari larinya, manusia lantas berkebun.

*bersambung dulu, ya* :3

#Edisi #tulisan #ngawur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s