Sabana?

Di pelataran kisahku kini, terbentang sabana nan luas. Apa yang kau lihat? Apakah rerimbunan pohon berduri nan jarang ataukah padang rumput nan tinggi? Sejenak ku berpikir. Jika benar begitu, barangkali rerimbunan ide itu belum tertuang sepenuhnya. Ia terperangkap duri ego dan memaksanya tak banyak tumbuh. Atau barangkali, banyak isme-isme yang merangkai kata untuk penjarakan ide! Duhai.Sungguh kawan, ia bukan sabana. Karena aku berteduh di rerimbunan hijau pohon yang sering diguyur hujan. Kadang pelangi, kadang perenjak pun kadang lebah-lebah mengudara di atasku. Di bawahku, ada bajing kecil mengeruk tanah, pun barisan semut nan rapi tersembunyi di bawah dedaunan kering. Aku tak kekurangan air, matahari pun masih sempat menelesup di antara ruang. Kenapa sabana?

Nampaknya, aku harus bekerja keras. Menyingsingkan lengan, membajak tanah dan menggali parit. Sedikit berjalan lebih jauh dibanding biasanya. Pun rerumputan tinggi itu perlu dipangkas. Mengerahkan tenaga sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Dan, aku perlu berlari, berkeliling membawa benih sebanyak mungkin. Lantas tebar, semailah ia wahai sabana. Di tanahmu, ia akan memanjakanmu. Dan aku akan menari, tarian bahagia. Tanganku mengudara, menyebar benih ke mana pun jua. Menggoda awan, menggoda matahari. Kan ku rayu mereka menyemai sabana.

Bagaimana diri? Siapkah kau tegak bekerja kini? Ayo, bergegas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s