Penat yang kepayahan

Rasanya, hanya dengan barisan huruf ini saya berbagi. Begitu banyak air terkuras perihal yang sama. Apakah aku belum jua lulus uji? Mungkin. Tapi saya yakin, bukanlah demikian. Inilah jalannya. Proses yang cukup panjang.

Mungkin karena faktor diriku saja, sehingga lambat nian ia bergerak. Selama doa terus dipanjatkan, selama itu pula saya akan bertahan. Apakah saya atau waktu yang akan menjawab? Lihatlah nanti.

Lantas, ada hal lain dan ia ternyata penting. Sepertinya salah saya yang menjadikannya pelampiasan. Tapi salahkah, jika titik jenuh telah mengalami kepayahan. Saya ingin rehat dari dunia ini. Saya ingin menyambung cita yang sempat mengendur?

Tidak. Bukan tergesa. Ia telah lama disimpulkan. Telah kucoba opsi-opsi itu, tapi tetap saja. Nihil hasilnya. Percuma jalinan waktu itu? Tidak, bagiku tidak. Karena ia adalah rangkaian ajar bernilai emas pengalaman. Bahwa hanya kepada Allah, untuk Allah dan bagi Allah-lah saja.

Rabbi..tawakaltu ‘alaLlah..

Tersiar Kisah

Tersiar sebuah kabar, anak durhaka telah berbuat onar. Terkenang kisah batu menangis di tepi pantai. Ranah Minang berkisah, titah amarah seorang ibu membawa petaka pada durjana laku sang buah hati. Ah, samakah kisah itu? Akankah ada batu menangis itu terulang?

Terik masih malu. Semilir angin menambah syahdu, siang ini langit terasa sejuk sekali. Raksasa batang mangga berkuasa di atas rumahku. Akarnya saja menghujam dalam ke bumi, sedang rumahku hanya terlampau beberapa meter saja. Tapi, penuh kesyukuran kami hanturkan. Rasanya begitu besar kelimpahan hidup di antara ruang raksasa mangga dan tanah.

(bersambung)